Berkah COVID-19

Pembuka

Setiap musibah ada hikmah dibaliknya, setiap kegelapan ada titik cahaya. Kata-kata bijak itu terasa benar adanya. Panik, marah, kecewa, bercampur baur dalam menghadapi fenomena pandemi Coronavirus disease 2019 atau COVID-19, yang menggegerkan hampir semua belahan dunia. Negara seperti tidak siap dengan merebaknya virus tersebut. Gagap dan dilematis, dalam memilih kebijakan yang dianggap tepat untuk menghentikannya.

Fenomena COVID-19

Bermula dari China daratan, diduga persisnya di kota Wuhan, provinsi Hubei, salah satu kawasan perniagaan di China. Dari sanalah virus tersebut merambah ke berbagai belahan negara dengan sangat cepat, sejalan dengan pergerakan manusia yang berinteraksi bebas, di alam “hidup tanpa batas” atau borderless. Mengerikan memang, karena sebaran virus tersebut bergerak seirama dengan pergerakan manusia, dan manusia telah menjadi carrier atau pembawa virus itu sendiri.

Kehadiran wabah ini semakin pelik, di tengah interaksi manusia yang semakin menggelobal, bergerak sangat masif, berlalulalang dari berbagai wilayah ke wilayah lain, dari satu negara ke negara lain. Ia wujud dalam beragam aktivitasnya, semisal, seminar, konferensi, pertemuan bisnis, interaksi keagamaan dan kegiatan sosial, dan kegiatan lainnya yang tidak sedikit melibatkan kerumunan orang. Tidaklah mengherankan jika hanya dalam kurun waktu sekitar tiga bulanan hingga saat ini, sejak pertama kali penyebarannya sekitar akhir Desember 2019 di Wuhan, terdapat 601.238 kasus terpapar COVID-19 di 199 negara (Kompas.com, Sabtu 28 Maret 2020, jam12.32 WIB).

Dampak Sosial-Ekonomi

Demikian manakutkannya virus ini, dalam waktu yang cepat menelan banyak korban jiwa di berbagai belahan negara. Awalnya dianggap sepele, namun dengan informasi yang gencar utamanya melalui media sosial yang mewartakan tentang keganasan virus tersebut, berimbas pada perubahan perilaku masyarakat. Orang mulai takut berinteraksi, sehingga banyak terhentinya kegiatan-kegiatan sosial, ekonomi dan keagamaan yang bersifat masif dan berinterkasi fisik. Bahkan mewabahnya COVID-19 berkomplikasi terhadap ancaman kelesuan ekonomi. Hotel-hotel, tempat-tempat wisata, sepi. Supir-supir gojek dan pekerja lepas banyak kebingunan karena kehilangan penghasilan.

Reaksi Pemerintah

Berbeda-beda reaksi bagaimana negara menghadapi wabah COVID-19. Ada negara yang melakukan isolasi negaranya atau kawasannya (lockdown), ada yang tetap membiarkan masyarakat berkativitas dengan bergantung pada kedisiplinan masyarakatnya itu sendiri. Ada yang relatif berhasil menekan sebaran virus tersebut, sebaliknya terdapat pula negara seperti kewalahan mengatasinya, sebut saja Italia. Bahkan negara adidaya sekaliber Amerika Serikat pun terkesan tak berdaya menghadapinya. Amerika Serikat, saat ini menduduki dengan urutan negara terpapar terbanyak, 104.256 orang dan menelan korban 1.704 meninggal. Disusul Italia sebanyak 86.498 dan 9.134 meninggal, melampui China dengan jumlah korban 81.394 dan 3.295 meninggal (per 28 Maret 2019, sumber Worldometer, dikutip Kompas.com).

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Negara yang nyaris paling belakangan masuk dalam daftar negara terpapar. Saat ini korbannya secara statistik mengalami kenaikan signifikan. Dalam tempo kurang dari satu bulan sejak diumumkan secara resmi pertama kali 5 Maret (Kompas.com 27 Maret 2020), telah menembus angka 1.285 orang dengan korba meninggal sebanyak 114 orang (sumber, cnnindonesia.com tanggal 29 Maret 2020). Beragam pandangan melihat cepatnya pergerakan pandemi COVID-19. Sebagaian menganggap masyarakat Indonesia kurang disiplin dan cenderung menyepelekan. Ada juga yang menyesalkan kurang siap dan tersedianya sarana dan prasarana kesehatan. Termasuk pemerintah dianggap gamang dalam memilih kebijakan yang sesuai. Ada juga yang memakluminya, karena pemerintah dihadapkan dengan pilihan dilematis, jika dilakukan pengisolasian masyarakat (lockdown), sebagai misal, tentu bagaimana dengan masyarakat yang menggantungkan kehidupannya melalui penghasilan harian, yang jumlahnya tidak sedikit.

Reaksi Masyarakat

Terkesan awalnya menyepelekan. Seperti tidak hirau dengan himbauan pemerintah untuk tidak bepergian dan tinggal di rumah. Kemacetan lalulintas, bandara, kafe-kafe, mall, nampak normal, penuh dan ramai, seolah tiada virus yang berbahaya yang mengintainya. Kesadaran muncul, ketika media sosial (medsos) gencar menyebarkan informasi korban-korban yang nyata akibat COVID-19. Himbauan untuk tinggal dan bekerja di rumah serta tidak bepergian ke luar kota termasuk ke luar negeri mulai dipatuhi. Belakangan jalan-jalan mulai sepi, demikian pun dengan mall, perkantoran, dan ruang-ruang publik nampak lengang.

Dipaksa Hidup Dalam Budaya 4.0

Salah satu fenoma yang menarik dan menjadi tren akibat korona tersebut, pegawai mulai melakukan aktivitas pekerjaan kantornya di rumah atau yang dikenal dengan WfH (Work from Home). Pimpinan dan pegawai mulai gandrung menggunakan video conference (vicon) dan berinteraksi sosial dan ekonomi secara online. Awalnya banyak pegawai menggerutu dan kikuk dengan kebijakan WfH, kendatipun ini biasa dalam perspektif perubahan perilaku. Namun belakangan kantor-kantor, baik pemerintah maupun swasta mulai terbiasa dalam kerja digital, vicon, e learning, dan lain-lain kegiatan yang melibatkan banyak orang dilakukan di rumah. Aplikasi pekerjaan, kehadiran, laporan pekerjaan, berinterkasi secara daring. Sebagian besar aktivitas pekerjaan berlalu lalang dalam dunia internet, tanpa menghadirkan fisik manusia. Jelas sangat hemat, hiruk pikuk kemacetan jalanan sangat berkurang, biaya opersional kantor seperti penggunaan AC, listrik, air, dan lain-lain juga jelas berkurang.

Merubah Budaya dan Struktur Kerja Pegawai

Pemerintah mempridiksi periode pandemi COVID-19 berakhir hingga Mei. Artinya ada kisaran dua bulan kedepan (April-Mei) pegawai akan melakukan ativitas kerjanya secara online di rumah. Masa pengendapan kebiasaan baru, untuk membangun budaya kerja digital yang sangat berharga. Dan pada saatnya kita masyarakat akan menjadi lebih terbiasa bekerja di rumah dengan mengoptimalkan fasilitas digital, yang sudah lama menawarkan kemudahannya.

Tentu perubahan budaya ini harus segera dimanfaatkan pengambil kebijakan, untuk membangun sistem organsisasi dan sistem kerja baru, yang benar-benar berbasis digital. Struktur organisasi yang hirakhis selayaknya harus segera disesuaikan, karena interaksi pegawai cenderung tidak lagi berjenjang. Pegawai dapat berinteraksi dengan pegawai lainnya secara lateral, dengan semua pegawai pada berbagai jenjang jabatan. Proses kerja lama yang cenderung fisik dan manual, segera disesuikan dengan sistem kerja digital. Jam kehadiran di kantor, sebagai misal, selayaknya segera disesuikan karena basisnya output dan kehadiran fisik di kantor dalam banyak pekerjaan tidak lagi banyak maknanya. Demikian halnya sistem kepegawaian lainnya juga perlu melakukan penyesuaian secara lebih terpadu dalam basis digital tersebut.

Penutup

Kendatipun COVID-19 telah merepotkan kita semua dan menguras pikiran, mental, dan kegiatan sosial termasuk mengancam kelumpuhan ekonomi. Tapi dibalik gelapnya kejadian tersebut, musibah COVID-19 pun berpotensi melahirkan titik terang, lahirnya budaya kerja hemat. Investiasi pekerjaan tidak lagi memperluas sarana fisik gedung kantor, juga bersibuk-sibuk dalam kemacetan kendaraan pegawai di jalanan. Pun lahan parkir kantor, listrik, air, semuanya bisa dihemat. Kita bisa bekerja dengan cara murah dan cepat, karena kita telah membiasakan bekerja secara digital. Selamat tinggal COVID-19, kami menghardikmu untuk pergi selamanya, sekaligus kami pun berterima kasih karena kehadiramu telah memaksa kami bekerja menjadi lebih cerdas dan hemat, semoga!

 

Padepokan BSD, 29 Maret 2020

Dr. Ahmad Jalis, MA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *